liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

10 Contoh Teks Negosiasi dalam Berbagai Situasi

10 Contoh Teks Negosiasi dalam Berbagai Situasi

Jakarta

Teks negosiasi adalah teks yang berisi interaksi sosial antara satu orang dengan lainnya yang berfungsi untuk menetapkan keputusan di antara pihak-pihak yang mempunyai kepentingan berbeda.

Kedua belah pihak memiliki hak atas hasil akhir dalam negosiasi ini. hasil dalam negosiasi ini memerlukan persetujuan kedua belah pihak sehingga proses saling memberi dan menerima sesuatu untuk mencapai kesepakatan bersama, demikian dikutip dari buku CCM Bahasa Indonesia SMA dan MA oleh Tomi Rianto.

Tujuan dari negosiasi adalah mencapai kesepakatan yang dapat diterima kedua belah pihak untuk melakukan transaksi atau menyelesaikan sengketa atau perselisihan pendapat, seperti dikutip di buku TOP ONE Ulangan Harian SMA/MA IPA Kelas X oleh Tim Super Tentor.

Agar detikers memahami isi teks negosiasi, berikut beberapa contoh teks negosiasi, seperti dikutip dari buku Bahasa Indonesia Kelas X oleh Suherli; Buku Siswa Bahasa Indonesia SMA/MA Kelas 10 oleh Drs Subadiyana; Buku Ajar Bahasa Indonesia SMA/MA Tingkat Dasar oleh Asyhari Dwi Rukmana; Seni Debat Dan Negosiasi Trik Menaklukkan Orang Lain dengan Argumentasi dan Gaya Bicara oleh Mira Fadilla; Intisari Materi Bahasa Indonesia SMA: Plus Soal AKM oleh Ai Mulyati; dan Modul Pembelajaran SMA Bahasa Indonesia oleh Kemendikbud:

Contoh Teks Negosiasi

1. Teks Negosiasi Warga dengan Investor

Sudah tiga tahun warga Dusun Sejahtera berjuang untuk menyelamatkan sumber mata air yang terletak di desanya. Perjuangan panjang tersebut bermula ketika sebuah perusahaan properti mulai membangun hotel di kawasan sumber mata air tersebut. Sumber air “Panguripan” menjadi tumpuan hidup tidak hanya bagi enam ribu warga Desa Sejahtera, tetapi juga puluhan ribu warga desa di sekitarnya. Sumber air Panguripan menjadi penyedia air bersih untuk dikonsumsi sekaligus memenuhi pengarian sawah bagi puluhan hektar sawah. Bila pembangunan hotel itu diteruskan, sumber air Panguripan akan mati.

Meskipun beberapa kali didemo warga, pihak pengembang tetap bersikukuh melanjutkan pembangunannya.

Akhirnya, Pak Lurah membentuk tim yang akan mewakili warga untuk menuntut pengembangan hotel PT Mulya Jaya, menghentikan pembangunan hotel tersebut. Tim Penyelamat Panguripan diterima Direktur PT Mulya Jaya, Edy, di ruangannya.

Edy: Silahkan duduk Bapak dan Ibu. Selamat pagi, boleh saya tahu Bapak dan Ibu ini berasal dari mana?

Kepala desa: Saya Arifin, Pak. Kepala Desa Sejahtera. Ini Ibu Suci, sekretaris desa, dan satu lagi Pak Rahmat, salah satu tokoh masyarakat yang ditunjukkan oleh warga desa kami.

Edy: Terima kasih atas kedatangan Bapak dan Ibu ke kantor saya. Dengan senang hati, sebagai direktur saya akan mendengarkan aspirasi warga demi kebaikan bersama.

Edy: Begini Bapak dan Ibu. Dalam pertemuan dengan warga desa beberapa waktu lalu, bukankah sudah disepakati bahwa pihak investor akan tetap melanjutkan pembangunan hotel dan berjanji akan tetap menjaga kelestarian sumber air Panguripan. Jadi, ada masalah apa lagi?

Warga I: Bagaimana mungkin kelestarian sumber air dapat dijaga, Pak? Pembangunan hotel tepat di atas mata air tersebut pasti akan mematikan mata airnya. Awalnya, karena pembangunan hotel tersebut akan menuntut ditebangkan pepohonan di sana, maka daerah resapan air akan berkurang. Hal ini mengancam kelestarian mata air kami.

Warga II: Sekali lagi saya tegaskan, Pak. Kami tidak akan pernah menyetujui pembangunan hotel atau apapun di atas sumber mata air, sumber penghidupan kami itu!

Kepala Desa: Sabar dulu, Pak Rahmat. (Sambil memegang Pundak Pak Rahmat). Benar Pak kami belum pernah menyetujui dan tidak akan pernah menyetujui kesepakatan itu, Pak. Bagi kami, sumber mata air Panguripan adalah gantungan kehidupan kami. Tak hanya untuk makan dan minum, sawah kami juga membutuhkan air.

Warga II: Kami selamanya akan terus menolak pembangunan hotel tersebut! Bahkan kami akan bertindak lebih keras bila tuntutan mengeluarkan surat penghentian pembangunan hotel.

Edy: Bapak dan Ibu jangan khawatir. Sebenarnya, Wali Kota sudah mengeluarkan surat perintah penghentian pembangunan hotel.

Warga I: Kalau begitu tunggu apalagi?

Edy: Masalahnya, saya masih mencari lahan pengganti. Bagaimana pun saya tidak mau kehilangan kesempatan bisnis di kota ini.

Kepala Desa: Bila benar demikian, sebagai Kepala Desa, saya akan membantu Bapak menemukan lahan baru yang tidak terlalu jauh dari sumber Panguripan.

Edy: Kalau memang Pak Lurah bisa mengusahakannya, saya akan sangat berterima kasih. Hari ini juga saya akan memerintahkan anak buah saya menghentikan pembangunan hotelnya.

Kepala Desa: Terima kasih atas kerja sama ini.

Edy: Saya juga berterima kasih karena Pak Lurah berhasil menghentikan demo warga. Terima kasih, Pak.

2. Teks Negosiasi dalam Perniagaan

Herman dan Irfan ditugasi oleh sekolah untuk membeli dua ekor sapi yang akan dipotong pada Hari Raya Idul Adha. Mereka segera mendatangi pedagang sapi dan menawarkan dua ekor sapi. Akhirnya terjadi tawar menawar antara Herman dan Irfan di satu pihak dan pedagang sapi di pihak lain.

Herman: Selamat siang, Pak. Saya Herman, siswa SMAN 2. Kami akan membeli sapi untuk sekolah. Yang belum laku mana ya, Pak?

Pedagang: Yang ini. Harganya Rp 21.500.000. Yang merah itu hanya Rp 19.500.000. Semua sudah termasuk pengiriman dan pemeliharaan selama sebulan.

Herman: Saya sebenarnya senang yang besar itu. Tapi harganya bisa dikurangi ya, Pak?

Pedagang: Bisa. Saya kurangi lima ratus ribu.

Herman: Itu namanya tidak kurang, Pak.

Irfan: Yang merah bisa kurang berapa?

Pedagang: Yang merah tidak bisa kurang. Itu harga khusus untuk Adik.

Herman: Bagaimana kalau yang besar itu dua puluh juta, Pak. Saya kira itu sesuai dengan harga umum.

Pedagang: Belum bisa, Dik.

Irfan: Kalau dua-duanya saya beli, Rp 39.000.000 gimana, Pak?

Pedagang: Begini saja. Kalau kedua-duanya dibeli, saya kasih harga Rp 40.000.000. Bagaimana, Dik?

Herman: Bagaimana Her, setuju tidak?

Herman: Baiklah, Pak. Tolong diantar sehari sebelum Idul Adha. Ini saya titip sepuluh juta sebagai tanda jadi dan akan saya lunasi dari Senin minggu depan. Lalu, bagaimana kalau di kandang ini terjadi sesuatu atas sapi ini?

Pedagang: Itu semua menjadi tanggung jawab saya. Nanti saya ganti dengan yang sama. Ini tanda terima uang mukanya.

3. Teks Negosiasi dalam Kegiatan

Pagi saat istirahat, beberapa siswa pengurus OSIS menemui Pak Yanto, wakil kepala sekolah urusan kemahasiswaan. Mereka menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan kegiatan pentas seni dalam rangka tutup tahun perpisahan dengan kakak kelas XII.

Yudi (Ketua OSIS): Maaf, Pak, berkaitan dengan rencana kegiatan tutup tahun kami merencanakan akhir bulan Mei.

Pak Yanto: Baiklah. Apa alasanmu memilih bulan Mei?

Nina (Sekretaris OSIS): Sebelum ulangan akhir semester kalau bisa sudah dilaksanakan karena masih ada kegiatan di masing-masing seksi, Pak.

Pak Yanto: Begini, kemungkinan penilaian akhir semester akan maju karena bulan Juni sudah memasuki bulan Ramadan. Sementara itu, masih banyak kakak kelas XII yang harus mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Oleh karena itu, sebaiknya kegiatan ini dilaksanakan setelah penilaian akhir semester dan sebelum penyerahan rapor kalian. Dengan begitu, tidak mengganggu belajar kalian dan kakak kelasmu sudah tes seleksi masuk perguruan tinggi. (Ujar tegas Pak Yanto)

(Beberapa anak OSIS terlihat masih ragu)

Dodi (Seksi Acara): Lalu bagaimana dengan acaranya, Pak? Sebagian teman mengharapkan mengundang grup band dari luar, Pak. Apakah diizinkan?

Pak Yanto: Kegiatan ini menggunakan prinsip dari, oleh, dan untuk warga sekolah. Oleh karena itu, potensi dalam sekolah dimaksimalkan. Grup band dari luar saya setuju dengan syarat cukup satu saja dan dijadikan bintang tamu. Penampilan juga harus dijaga sebab kita juga mengundang Kepala Sekolah, Guru, dan Komite Sekolah.

Yudi: Baik Pak. Kami setuju dengan itu.

Pak Yanto: Ya, sekarang segera siapkan proposal kegiatan untuk rapat dengan Bapak/Ibu Pembina OSIS.

4. Teks Negosiasi Persengketaan

Pak Rahman membeli tanah Pak Harjo. Harga tanah seluas seperti yang tercantum di dalam sertifikat sudah disepakati oleh keduanya. Namun demikian, setelah diukur ulang oleh Pak Rahman, luas tanahnya tidak sama dengan yang tertulis di sertifikat. Luas tanah sesuai dengan batas yang ada lebih sempit. Pak Rahman menganggap batasnya tidak benar. Kebetulan tanah itu bersebelahan dengan tanah milik Pak Narto. Pak Rahman menyampaikan hal ini kepada Kepala Dukuh. Akhirnya, Pak Rahman dan Pak Narto bertemu di rumah Pak Dukuh.

Pak Dukuh: Saya minta maaf telah mengganggu kesibukan Bapak. Begini Pak Narto, Pak Rahman ini telah membeli tanah di sebelah Bapak, tapi luasnya tidak sama dengan yang tertulis di sertifikat. Ternyata lebih sempit. Bagaimana sebenarnya, Pak?

Pak Narto: Setahu saya, sejak dahulu ya, seperti itu keadaanya. Batas sudah ada semua sejak dulu, saya tidak mengubah posisinya.

Pak Rahman: Tapi, saya telah dirugikan karena yang saya beli seperti yang tertulis di sertifikat, Pak.

Pak Narto: Mestinya, sebelum Pak Rahman membayar semuanya, sepakati dulu dengan pemiliknya sehingga tidak bermasalah dengan saya.

Pak Rahman: Selisihnya cukup banyak. Nominalnya mencapai 25 juta rupiah.

Pak Dukuh: Begini saja. Saya tidak berhak memutuskan. Saya hanya menyarankan. Kita undang petugas Dinas Pertanahan Kabupaten untuk mengecek kebenaran data itu.

Pak Narto: Tapi, saya merasa benar-benar tidak mengubah batas. Ya, apa adanya sesuai sertifikat milik saya ini.

Pak Dukuh: Begini Pak Narto. Ini untuk mengecek kebenaran batasnya. Barangkali ada hal-hal yang tidak benar. Bagaimana Pak Narto, Pak Rahman?

(Akhirnya keduanya menyetujui dan mengundang petugas dari Dinas Pertanahan Kabupaten)

Petugas Dinas Pertanahan: Hasil pengecekan dan pengukuran ternyata luas tanah Pak Rahman yang baru dibeli ini memang tidak sama dengan yang tertulis di sertifikat tanah. Sementara milik Pak Narto hanya lebih beberapa sentimeter. Memang tidak sama dengan kurangnya milik Pak Rahman. Bagaimana kalau yang beberapa sentimeter itu untuk Pak Rahman?

Pak Narto: Kalau saya setuju saja, Pak.

5. Teks Negosiasi Pinjaman Modal di Bank-Toko Roti

Seorang pengusaha sedang melakukan negosiasi dengan pegawai bank terkait proposal peminjaman modal. Jenis negosiasi ini sering dilakukan oleh banyak peminjam modal kepada bank.

Pengusaha: Selamat pagi, Pak. Di sini saya hendak membicarakan terkait peminjaman modal yang ingin saya ajukan.

Pegawai Bank: Selamat pagi juga, Pak. Kami juga telah membaca proposal peminjaman modal yang anda ajukan. Menurut kami, usaha toko roti yang akan bapak buat ini cukup menarik.

Pengusaha: Iya Pak. Saya hendak beralih profesi dari karyawan kantor menjadi pengusaha roti.

Pegawai Bank: Telah dijelaskan beserta rinciannya pada proposal bapak bahwa dana yang dibutuhkan bapak sebesar Rp 80 juta. Berdasarkan pengalaman perusahaan kami, atas pengajuan modal serupa oleh pengusaha lain, sebenarnya modalnya cukup Rp 70 juta saja. Sedangkan pengembalian angsuran, sebesar Rp 4 juta per bulan termasuk bunganya. Bagaimana Bapak?

Pengusaha: Apa tidak bisa dinaikkan lagi nominal peminjamannya, Pak. Saya merasa Rp 70 juta masih kurang untuk melengkapi usaha roti saya.

Pegawai Bank: Bagaimana jika Rp 75 juta, Pak? Itu nominal maksimal untuk pengajuan seperti ini dengan jaminan sertifikat tanah yang akan dibangun toko roti tersebut.

Pengusaha: Baik Pak, saya rasa itu nominal yang cukup.

Pegawai Bank: Baik jika begitu, Pak. Silakan baca berkasnya secara teliti, dan tanda tangan jika setuju.

Pengusaha: (setelah menandatangani) Baik Pak, saya setuju. Saya sangat berterima kasih.

Pegawai Bank: Sama-sama Pak.

6. Teks Negosiasi Jual Beli di Pasar-Pakaian

Siang itu, terjadi kegiatan jual beli di Pusat Grosir Solo. Anton yang sedang berekreasi ingin membelikan oleh-oleh untuk ibunya. Dia ingin membelikan kerudung. Terjadilah proses tawar menawar antara Anton dengan penjual kerudung.

Penjual: Selamat siang.

Anton: Selamat siang.

Penjual: Mau beli apa, Mas?

Anton: Ini Mbak, saya mau beli kerudung untuk ibu saya.

Penjual: Cari yang model bagaimana, Mas?

Anton: Model biasa saja, Mbak.

Penjual: Silahkan Mas, ke sini. (Sesampainya di dalam toko)

Penjual: Silakan dipilih, Mas. Banyak pilihannya kok.

Anton: Saya suka yang hijau kalau dilihat segar, Mbak.

Penjual: Iya mas. Cocok kalau dipakai oleh ibu, Mas.

Anton: Ini berapa, Mbak?

Penjual: Rp 50.000

Anton: Wah, kok mahal Mbak? Rp 30.000 tidak boleh?

Penjual: Tidak boleh, Mas, itu bahannya bagus soalnya.

Anton: Tidak bisa kurang, Mbak?

Penjual: Rp 45.000 boleh, Mas.

Anton: Rp 40.000 ya, Mbak? Ini untuk oleh-oleh ibu saya.

Penjual: Benar Mas tidak boleh. Nanti toko saya bisa bangkrut.

Anton: Ya sudah, Mbak Rp 45.000, saya ambil yang ini.

Penjual: Mau beli apa lagi, Mas?

Anton: Itu saja Mbak. Ini uangnya, Mbak.

Penjual: Uangnya Rp 50.000 ya, Mas? Ini kembaliannya Rp 5.000. Terima kasih, Mas.

Anton: Iya Mbak, sama-sama.

7. Teks Negosiasi Dalam Bisnis

Pegawai bank: Selamat pagi Pak, silakan duduk, ada yang bisa kami bantu?

Nasabah: Selamat pagi Bu. Ya, terima kasih. Begini Bu, saya ingin mengajukan proposal peminjaman uang untuk usaha ikan lele saya.

Pegawai bank: Maaf, bisa saya lihat proposalnya?

Nasabah: Ini Bu, silakan.

Pegawai bank: Sebenarnya, proposal Bapak ini sangat bagus, tidak masalah. Cuma kami pihak bank tidak bisa memenuhi permintaan dana sebesar Rp 500 juta.

Nasabah: Jadi, kira-kira pihak bank mampu memberikan berapa Bu?

Pegawai bank: Setelah saya hitung, kami hanya menyanggupi sampai Rp 300 juta Pak, dengan bunga 4%.

Nasabah: Tidak bisa ditambah lagi Bu? Usaha ini sebenarnya sangat sukses, pesanan ikan lele ke kami dari seluruh Indonesia. Dana ini rencananya akan kami gunakan untuk menambah kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan ikan lele tersebut.

Pegawai bank: Tunggu dulu Pak, saya hitung ulang. Yah, sepertinya kami sanggup memberikan 350 juta.

Nasabah: Wah, apakah tidak bisa dinaikkan lagi Bu? Bagaimana kalau 400 juta?

Pegawai bank: Maaf Pak, hanya segitu yang bisa kami sanggupi.

Nasabah: Iya deh Bu, tidak apa-apa, saya setuju.

8. Teks Negosiasi Singkat Jual Beli di Pasar

Penjual: Ada yang bisa dibantu Mas?

Pembeli: Baju yang ini ukuran L ada tidak?

Penjual: Ada mas, sebentar saya ambil.

Penjual: Ini mas ukuran L.

Pembeli: Berapa harganya Mas?

Penjual: Itu harganya Rp 300 ribu, pasnya Rp 290 ribu.

Pembeli: Bisa Rp 260 ribu tidak Mas?

Penjual: Tidak bisa Mas, paling dikurangi lima ribu jadi Rp 285 ribu.

Pembeli: Harganya Rp 280 ribu saja Mas, langsung saya beli.

Penjual: Iya baiklah.

9. Teks Negosiasi Jual Beli di Pasar-Buah Mangga

Pembeli: Berapa harga sekilo mangga ini Bang?

Penjual: Tiga puluh ribu, Bu. Murah.

Pembeli: Boleh kurang kan, Bang?

Penjual: Belum boleh, Bu. Barangnya bagus lho, Bu. Ini bukan karbitan. Matang pohon.

Pembeli: Iya, Bang, tapi harganya boleh kurang kan? Kan lagi musim, Bang. Dua puluh ribu saja ya?

Penjual: Belum boleh, Bu. Dua puluh delapan ribu, ya. Biar saya dapat untung, Bu.

Pembeli: Baiklah, tapi saya boleh milih sendiri, kan Bang?

Penjual: Asal jangan pilih yang besar-besar, Bu. Nanti saya bisa rugi.

Pembeli: Iya, Bang. Yang penting saya dapat mangga yang bagus dan tidak busuk.

Penjual: Saya jamin, Bu. Kalau ada yang busuk boleh ditukarkan.

Pembeli: Baiklah, saya ambil 3 kilo ya Bang.

10.Teks Negosiasi Jual Beli-Sepatu

Pembeli: Pak saya mau tanya dulu, sepatu ini, berapa harganya?

Penjual: Kalau sepatu itu premium, Nak. Harganya Rp 400 ribu, Nak.

Pembeli: Harganya boleh kurang tidak, Pak?

Penjual: Hmmm, boleh. Mau nawar berapa, Nak?

Pembeli: Rp 250 ribu saja, Pak. Soalnya saya hanya membawa uang segitu. Bagaimana?

Penjual: Wah, harga segitu rasanya tidak bisa, Nak.

Pembeli: Rp Kalau 300 ribu, Pak?

Penjual: Naikin dikit ya, Nak. Rp 350 ribu Bapak lepas sepatu ini.

Pembeli: Iya, Pak. Saya setuju, ini uangnya. Terima kasih ya, Pak.

Selamat belajar bernegosiasi dari teks negosiasi ini ya detikers!

Simak Video “Momen Jackson Wang Minta Belajar Bahasa Indonesia di Panggung HITC 2022”
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/nwk)