liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

7 Tradisi Unik di Indonesia, Ada Bakar Batu-Kerik Gigi!

7 Tradisi Unik di Indonesia, Ada Bakar Batu-Kerik Gigi!


Jakarta

Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan suku, etnis dan kepercayaan. Dari ujung barat hingga timur jauh, Indonesia memiliki berbagai tradisi yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Bahkan, beberapa daerah memiliki tradisi yang unik. Tradisi dan adat istiadat merupakan kebanggaan bangsa Indonesia.

Menurut buku 100 Tradisi Unik di Indonesia karya Fatiharifah, berikut sejumlah tradisi yang ada di Indonesia.

7 Tradisi Unik di Indonesia

1. Tradisi Bakar Batu dari Papua

Tradisi membakar batu ini merupakan salah satu ritual unik di Papua. Biasanya, tradisi bakar batu dilakukan oleh suku-suku di pedalaman Papua dengan nama yang berbeda-beda.

Ritual ini memasak dengan menggunakan batu yang sangat panas. Beberapa suku yang masih mempraktekkan tradisi bakar batu adalah Lembah Baliem, Paniai, Nabire, Pegunungan Tengah, Pegunungan Bintang, Jayawijaya, dan sebagainya.

Batu-batu itu dibakar sampai merah membara. Sambil menunggu batu panas, warga menggali lubang yang dalam dan meletakkan daun pisang untuk alang-alang di dasarnya. Batu panas kemudian ditempatkan di dasar lubang, kemudian daun pisang disusun di atas batu dan daging babi diletakkan.

Tradisi bakar batu merupakan bentuk syukur, silaturahmi antar kerabat dan sahabat, menyambut kebahagiaan seperti pernikahan, kelahiran, penobatan, dan penyambutan tamu.

2. Balimau Kasai dari Riau

Tradisi unik selanjutnya adalah balimau kasai dari Riau. Tradisi ini biasanya diterapkan menjelang bulan Ramadan. Balimau artinya mandi dengan menggunakan air yang dicampur dengan jeruk khusus seperti jeruk purut, jeruk limau dan jeruk kapas.

Sedangkan Kasai berarti pewangi yang digunakan saat mencuci rambut. Kasai dipercaya mampu mengusir rasa iri di kepala.

Tradisi ini berawal dari masyarakat Sungai Gangga (India) yang menyucikan diri di sungai tersebut agar dosa-dosanya hilang bersama dengan aliran sungai tersebut. Balimau Kasai berkembang di Indonesia khususnya di Kampar ketika agama Hindu menyebar.

Namun setelah masuknya budaya Islam, tradisi ini masih banyak dijumpai dengan tujuan merayakan bulan Ramadhan. Balimau Kasai juga dikatakan sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita memasuki bulan Ramadhan.

3. Penggiling gigi dari suku Mentawai

Ritual menggosok gigi dilakukan oleh masyarakat Mentawai, Sumatera Barat. Perempuan Mentawai perlu mengasah atau menggemeretakkan gigi. Gigi runcing merupakan simbol kecantikan wanita di daerah tersebut.

Selain sebagai simbol keindahan, tradisi ini juga bertujuan untuk mendapatkan ketenangan jiwa. Prosesnya sendiri cukup menyakitkan.

Pemuka adat melakukan ini tanpa membius terlebih dahulu. Alat yang digunakan adalah besi atau kayu yang sudah diasah. Kerusakan gigi membutuhkan waktu yang lama.

Meski begitu, seiring perkembangan zaman, tradisi menggosok gigi mulai ditinggalkan. Namun, beberapa wanita masih melakukan tradisi ini, terutama istri kepala desa.

4. Fahombo Batu dari Nias

Tradisi unik selanjutnya berasal dari Nias, Sumatera Utara dan hanya dilakukan oleh laki-laki. Fahombo batu atau lompat batu adalah salah satu ritual terkenal di sana.

Namun tidak semua daerah di Nias memiliki tradisi ini. Salah satunya yang masih dilakukan adalah di kawasan Teluk Dalam. Tradisi batu fahombo sudah dilakukan sejak lama, bahkan berabad-abad dan diwariskan secara turun-temurun.

Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun di Nias sedang berlatih lompat tali. Tinggi tali akan bertambah seiring bertambahnya usia. Kemudian, pria tersebut akan diminta melompati batu setinggi 2 meter dan lebar 60-90 cm.

5. Tabot dari Bengkulu

Tradisi tabot merupakan salah satu tradisi unik yang berasal dari Bengkulu. Tabot berarti kotak atau peti kayu yang berasal dari bahasa Arab.

Tabot bertujuan untuk mengenang kisah kepahlawanan Husein, cucu Nabi SAW yang gugur dalam Perang Karbala tahun 681 M di bulan Muharram. Tradisi ini berasal dari para pekerja yang membangun benteng Marlborough (1718-1719).

Mereka berasal dari India yang bekerja sama dengan Inggris. Merasa nyaman dengan keadaan di Bengkulu, mereka menetap dan mengadakan tabot. Lambat laun tradisi tersebut mengalami perubahan, bukan untuk memperingati Husein, tetapi juga untuk memenuhi keinginan para leluhur.

6. Tongkang Bakar dari Riau

Di Riau ada tradisi membakar tongkang. Masyarakat Tionghoa di Riau mengadakan upacara ini setiap bulan Juni.

Upacara tersebut dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur karena para leluhur telah berhasil memboyong keluarga tersebut untuk menetap di perantauan hingga saat ini. Tongkang tersebut diibaratkan sebagai kapal yang membawa nenek moyang mereka ke Bagasiapiapi Riau.

7. Timba Laor dari Maluku

Tradisi selanjutnya adalah timba laor dari Maluku. Upacara menangkap cacing laut atau laor di pantai Namalatu, Desa Latuhalat, Ambon sudah berlangsung ratusan tahun.

Kandungan protein cacing laut sangat tinggi dan dapat diolah menjadi berbagai makanan tradisional. Laor adalah cacing laut yang muncul setahun sekali, tepatnya antara bulan Maret dan April.

Uniknya lagi, laor hanya muncul saat bulan purnama pada saat pasang tertinggi dan hanya muncul di daerah pantai yang berbatu. Kemunculan laor dipengaruhi oleh siklus Bulan dan Matahari.

Parade penangkapan cacing laut diawali dengan upacara adat. Kemudian, mereka menggunakan alat tangkap berupa nyiru atau kain kasa yang diikatkan pada tongkat sebagai pegangan.

Simak Video “Mengenal Tradisi Kenduren Udan Dawet di Boyolali”
[Gambas:Video 20detik]
(aeb/nwk)