liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Awal Mula Frank Ketahuan Pakai Data Palsu buat Kibuli JP Morgan

Kasus Penyalahgunaan Identitas, Peneliti Unair: Evaluasi PSE & Pinjol

Jakarta

JP Morgan Chase (JPMC) menggugat pendiri startup fintech Frank, Charlie Javice dan juga Oliver Amar, atas tuduhan memalsukan data pengguna. Dia melakukan ini segera setelah mendapatkan inisiasi.

Frank merupakan startup yang memberikan layanan berupa pinjaman pendidikan kepada pelajar di Amerika Serikat. JPMC mengakuisisi Frank senilai US$175 juta atau sekitar Rp2,6 triliun (kurs Rp15.250) pada 2021.

Dilansir dari CNBC, Senin (16/01/2023), Frank kedapatan memalsukan data jumlah pengguna. Dari 4,25 juta pengguna yang diklaim, ternyata hanya ada 300.000 pengguna.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Tipuan itu ditemukan setelah mengirim email pemasaran ke 400.000 pelanggan Frank. Namun ternyata, 70% email dikembalikan. Informasi ini disampaikan JPMC dalam gugatan yang diajukan ke Pengadilan Distrik AS di Delaware akhir tahun lalu.

Sementara itu, seperti dilansir Forbes, langkah ini diduga dipicu karena JPMC telah meminta detail jumlah pengguna sebagai bagian dari pembahasan pengambilalihan. Hingga akhirnya, Javice dan Amar berniat memalsukan jutaan akun tersebut.

“Javice awalnya menolak permintaan JPMC, dengan alasan dia tidak dapat membagikan daftar kliennya karena masalah privasi,” tulis JPMC dalam gugatannya menjelaskan kronologi kasus dengan Javice.

Mereka dikatakan telah meminta direktur teknis Frank untuk merilis detail pelanggan palsu. Setelah direktur teknisnya menolak, Javice kemudian diduga membayar $18.000 kepada seorang profesor ilmu data untuk membuat jutaan akun palsu menggunakan data sintetis.

Pengacara Javice sendiri telah membantah tuduhan tersebut. Nyatanya, Javice malah mengajukan gugatan balik yang menyatakan bahwa JP Morgan mencoba merusak kesepakatan pengambilalihan yang telah disepakati.

JP Morgan menutup operasi Frank pada hari Kamis setelah gugatan diumumkan. Javice sendiri terus bekerja sebagai direktur pelaksana yang mengawasi produk Frank setelah akuisisi dilakukan. Namun, JPMC menangguhkan pekerjaannya pada bulan November.

Kasus penipuan ini mengejutkan banyak orang, karena Javice sendiri masuk dalam daftar Forbes 30 under 30 kategori Keuangan tahun 2019. Daftar tersebut memuat 30 tokoh muda di bawah usia 30 tahun yang memiliki prestasi luar biasa dan kontribusi besar bagi masyarakat.

Javice termasuk dalam daftar karena membersihkan startup Frank yang dapat mempercepat dan mempermudah proses pengajuan pinjaman mahasiswa di Amerika Serikat.

Forbes mengatakan Javice mendirikan Frank hanya dari 15 anggota pada 2016. Sejak itu, dia telah mengumpulkan dana US$16 juta untuk Frank. Startup yang ia ciptakan juga diklaim telah membantu 300.000 pengguna mengajukan bantuan keuangan.

Tonton video “Jason David Frank The Green Power Ranger’s Journey Ends”.
[Gambas:Video 20detik]

(zlf/zlf)