liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Bos-bos Korporasi Raksasa AS Pesimistis Ekonomi Berotot, Saham Merosot

Bos-bos Korporasi Raksasa AS Pesimistis Ekonomi Berotot, Saham Merosot

Jakarta

Sejumlah CEO perusahaan besar di Amerika Serikat (AS) mengaku khawatir situasi ekonomi Negeri Paman Sam.

Dikutip dari CNN, ini menjadi sentimen negatif bagi saham-saham di Wall Street. Dow turun lebih dari 350 poin atau 1,3%. Kemudian indeks S&P juga turun hampir 500 poin dan Nasdaq turun 2%.

CEO Walmart Doug McMillon membuat pernyataan terkait kekhawatiran tentang keadaan ekonomi. Dia mengatakan, masih banyak masyarakat kelas bawah yang terkena dampak inflasi.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Kemudian CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon mengatakan akan ada resesi yang lebih dalam menyusul kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve.

Kemudian CEO Goldman Sach Davis Solomon mengungkapkan bahwa masyarakat harus mempersiapkan diri menghadapi masa-masa sulit ke depan. Ada kemungkinan PHK massal (PHK).

Lebih lanjut, CEO Union Pacific Dan Lance Fritz mengungkapkan bahwa konsumsi masyarakat saat ini sedang mengalami perlambatan.

Mereka mengatakan investor sekarang cemas menunggu hasil pertemuan Federal Reserve minggu depan.

Bahkan, Bank Sentral AS disebut akan menaikkan lagi suku bunga acuan atau Fed Funds Rate pada rapat 14 Desember. Namun, belum bisa dipastikan berapa poin yang akan dinaikkan.

Ini juga menyebabkan pasar khawatir tentang inflasi di masa depan.

(kil/dna)