liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Cerita Mahasiswa UNY Sulit Bayar UKT, Ada yang Utang Bank hingga Mandek Kuliah

Cerita Mahasiswa UNY Sulit Bayar UKT, Ada yang Utang Bank hingga Mandek Kuliah

Jakarta

Belum lama ini, kisah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta viral (UNY) yang kesulitan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT). Namun, perjuangan mahasiswa tersebut terhenti setelah ia dipastikan meninggal dunia pada 9 Maret 2022 karena sakit.

Sekarang, ada pernyataan dari mahasiswa UNY lainnya tentang kesulitan mereka membayar UKT. Beberapa siswa mengatakan mereka dipaksa berhutang oleh tetangga dan bank, menjual ternak, dan beberapa harus putus sekolah.

Salah satunya adalah mahasiswa dengan awalan U. Setiap semester ia harus membayar UKT Rp 4,2 juta. Ayahnya adalah seorang salesman di angkringan dan ibunya adalah seorang buruh pabrik.

Penghasilan orang tua U menurun drastis akibat pandemi COVID-19. Angkringan sepi dan ibu ada di rumah.

“Saat saya masuk, ada wabah, pendapatan orang tua saya dipotong cukup banyak, pendapatan angkringan tidak bisa mencukupi makan keluarga,” ujar U dalam acara “Ada Apa Dengan UNY?: Kesaksian Korban UKT di UNY” diselenggarakan oleh UNY Mobile dan disiarkan di kanal YouTube Media Filosofis, seperti dikutip dari Momen Tenggara.

Mahasiswa berinisial U ini mengaku UKT Rp 4,2 juta cukup tinggi mengingat kondisi ekonomi keluarganya. “Saya mulai berpikir, membayangkan bahwa pendidikan itu tidak semurah yang saya bayangkan. Orang tua saya bahkan sempat berbincang akrab berdua, tanpa saya tahu apakah saya mampu membayar UKT semester depan,” tambah U.

U juga berusaha membantu perekonomian keluarga dengan bekerja sampingan sebagai buruh tani. Namun, itu tidak cukup.

Keluarganya kemudian harus rela menjual sapi yang sebenarnya merupakan tabungan keluarga. Dia mengatakan, selama semester kedua atau ketiga selama wabah, ibu dan ayahnya menjual sapi sebagai tabungan hidup untuk membayar kuliah. Padahal, awalnya ditujukan untuk tabungan guna membiayai sekolah dasar adiknya.

Tak berhenti sampai di situ, biaya UKT U menyebabkan keluarganya terlilit utang. “Bapak ibu jual sapi dengan dalih untuk biaya kuliah, biaya kuliah saya dibiayai dengan hutang bank,” ujarnya.

Siswa Dipaksa Berhenti Belajar

Siswa UNY satu lagi dengan huruf awal N, harus putus kuliah dan kembali ke kampung halamannya. Orang tuanya bangkrut dan tidak bisa membayar UKT sebesar Rp 3,6 juta per semester ditambah biaya asrama dan kebutuhan sehari-hari.

N mengatakan dia melamar beasiswa, tetapi tidak mendapatkannya. Dia telah meminta pengurangan UKT. Sayangnya, pihak kampus tidak menyediakannya.

“Mengapa ACC birokrasi tidak mengurangi UKT saya, sampai orang tua saya memutuskan saya tidak perlu kuliah lagi. Birokrasi seolah menutup telinga terhadap keadaan mahasiswa,” jelas N.

Hasil Survey Protes Biaya UKT

Tim Humas UNY bergerak, Opal menyampaikan dari data survei seribu mahasiswa, ada 97 persen mahasiswa yang tidak memenuhi UKT.

“Survey yang dilakukan teman-teman LPSM UNY Mobile, dari 1.000 mahasiswa ada 97 persen yang keberatan membayar UKT,” kata Opal.

Opal dan mahasiswa lainnya menuntut penyesuaian UKT setiap semester, mengingat situasi ekonomi saat ini masih labil. “Pertimbangannya karena selama ini hanya peralihan dari pandemi ke endemik dan sementara keadaan ekonomi orang tua siswa tidak menentu dan apalagi tahun 2023 ada kemungkinan resesi yang sedang kita pertimbangkan,” terangnya.

Sepengetahuannya, ada beberapa skema pengurangan UKT di UNY. Dalam syarat tersebut, UKT dapat diunduh dengan catatan orang tua siswa telah meninggal dunia.

“Dalam skema UKT yang disampaikan oleh seorang teman, salah satu pengurangan UKT untuk kelompok adalah orang tuanya harus meninggal dalam skema tersebut. Dan Sumaryanto mencibir bahwa akan dikurangi, namun ternyata ada teman korban yang orang tuanya telah meninggal. sampai saat ini juga mengurangi UKT-masih alot,” tambah Opal.

Selain itu, pengurangan UKT hanya dapat diperoleh untuk satu kelompok saja. Hal inilah yang kemudian ditentang mahasiswa UNY.

“Mudah-mudahan tidak hanya satu kelompok yang turun. Benar-benar turun setelah situasi mahasiswa. Kalau memang harus turun satu juta atau dua juta, donasilah,” ujarnya.

Anggota UNY Moves lainnya, Mushab Aulia mengatakan, UNY Moves merupakan gerakan kolektif mahasiswa UNY. Mereka bergerak untuk mengawasi masalah kemahasiswaan UNY, termasuk UKT.

“Gerakan Universitas adalah aliansi dari banyak mahasiswa UNY dan organisasi kemahasiswaan di UNY. Kami sebenarnya bukan organisasi resmi tapi organisasi kolektif, komunitas yang banyak mengurusi masalah kampus termasuk biaya kuliah dan masalah kampus lainnya,” jelas Mushab kepada Momen Tenggara.

Anda bisa membaca berita selengkapnya tentang kisah mahasiswa UNY yang kesulitan membayar UKT di sini.

Simak Video “Motif Pembunuhan Mahasiswa Unpad: Gambar Memalukan Akan Tersebar”
[Gambas:Video 20detik]
(baik/fase)