Dongeng Joko Bodo, Cerita Rakyat dari Jawa Tengah


Jakarta

Kisah Joko Bodo bercerita tentang seorang janda yang tinggal bersama anak laki-laki satu-satunya yang bernama Joko Bodo. Dongeng ini termasuk dalam cerita rakyat yang berasal dari Jawa Tengah.

Cerita rakyat pada umumnya menceritakan tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal usul suatu tempat. Tokoh-tokoh yang muncul di dalamnya diwujudkan dalam berbagai wujud, mulai dari dewa, binatang, dan manusia.

Cerita rakyat diwariskan secara turun-temurun, dari satu generasi ke generasi lainnya dan biasanya diceritakan oleh orang yang lebih tua, seperti dikutip dari buku Nilai Pendidikan: Intertekstualitas dalam Cerita Rakyat Buton karya Muhammad Yusnan.

Fungsi cerita rakyat adalah sebagai hiburan dan juga sebagai alat pendidikan. Padahal, orang yang bercerita pada dasarnya ingin menyampaikan pesan atau pesan yang bisa bermanfaat. Pesan lebih mudah diterima jika dibungkus dengan cerita yang menarik, seperti cerita rakyat.

Untuk lebih memahami cerita rakyat, berikut adalah dongeng tentang Joko Bodo yang diambil dari buku Cerita Rakyat Jawa Tengah Volume 1 karangan James Danandjaja.

Kisah Joko Bodo

Di sebuah desa hiduplah seorang janda dengan anak laki-laki satu-satunya. Bocah itu benar-benar bodoh. Oleh karena itu, ia dikenal sebagai Joko Bodo. Meski begitu, ibunya sangat menyayanginya. Suatu hari, Joko Bodo pergi ke hutan untuk mencari kayu.

Di dalam hutan, di bawah pohon besar, dia menemukan seorang wanita cantik sedang tidur dengan damai. Joko Bodo terkagum-kagum melihat kecantikan wanita ini. Tanpa pikir panjang, Joko Bodo mengambil wanita itu dan membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, wanita cantik itu dibaringkan di tempat tidur di kamar ibunya. Kemudian, Joko Bodo mendatangi ibunya dan berkata, “Bu, aku baru saja bertemu dengan seorang gadis yang sangat manis. Aku ingin menikahinya.”

“Di mana gadis yang kamu katakan cantik sekarang anakku?” tanya ibunya dengan gembira.

“Sekarang dia tidur nyenyak di kamar Ibu. Mungkin karena terlalu lelah menempuh perjalanan jauh dari hutan,”

“Aku senang mendengar ceritamu, Joko Bodo,” sapa ibunya.

Siang telah berubah menjadi malam. Di luar, hari sudah gelap. Tapi gadis itu masih belum bangun dari tidurnya. Khawatir dengan kesehatan calon menantunya, kata ibunda Joko Bodo itu.

“Joko Bodo, bangunkan gadis itu agar dia bisa makan dulu. Maaf, nanti dia lapar,”

“Bu, biarkan dia tidak makan malam ini. Tidak apa-apa. Kami akan membangunkannya besok pagi,”

Keesokan paginya ketika semua orang sudah siap untuk sarapan, gadis itu tidak muncul dari kamarnya. Melihat kejadian tersebut, ibunda Joko Bodo menjadi curiga. Mana ada orang yang bisa tidur sampai satu setengah hari.

Tanpa sepengetahuan Joko Bodo, sang ibu mengintip ke dalam kamar gadis itu. Kemudian, dia pergi ke kamar untuk memeriksa gadis yang tidak bangun dengan hati-hati.

“Aduh,” teriak sang ibu sambil mengelus dadanya setelah memastikan bahwa gadis yang dikira tidur itu benar-benar sudah meninggal.

Sang ibu segera menemui Joko Bodo dan berkata, “Anakku, gadis yang kamu bicarakan sudah meninggal.”

“Aku tidak percaya, Ibu. Dia belum mati. Gadis itu sedang tidur nyenyak dan akan segera bangun,”

Beberapa hari kemudian bau. Ketika Joko Bodo mencium bau busuk, dia bertanya kepada ibunya mengapa. Lalu sang ibu menjawab, “Anakku, bau itu berasal dari tubuh gadis itu yang sudah mulai membusuk. Itu tandanya gadis itu benar-benar sudah mati. Orang yang sudah mati mengeluarkan bau busuk.”

Sekarang pahamilah Joko Bodo bahwa setiap mayat akan berbau busuk. Kemudian dia mengangkat tubuh gadis itu dan membuangnya ke sungai.

Suatu hari, saat ibunya sedang memasak, tiba-tiba ibunya kentut. Bau kentut lelaki tua itu sangat busuk sehingga Joko Bodo mencium bau yang sangat menyengat.

Tanpa pikir panjang lagi, ibunya langsung memeluknya sambil menangis sangat sedih, karena mengira ibunya sudah meninggal. Sang ibu terus berjuang untuk membebaskan dirinya.

“Joko Bodo, aku belum mati. Aku masih hidup. Lepaskan aku, ayolah… aku belum mati, anakku,” pinta ibunya.

“Iya, tapi badan Ibu bau. Artinya Ibu sudah meninggal,” jawab Joko Bodo.

“Baunya karena saya kentut,” jawab sang ibu sambil terus meronta.

“Tidak, ibu sudah meninggal,” kata Joko Bodo sambil terus membawa ibunya ke tepi sungai.

Ibu malang itu dibuang ke sungai. Dia dibawa pergi dan mati. Sore hari, ketika Joko Bodo sedang duduk sendirian merenungkan kemalangannya, tiba-tiba ia kentut.

Mencium bau kentutnya sendiri, Joko Bodo menjadi sangat terkejut, “Kalau begitu aku akan mati juga. Badanku bau,” pikir Joko Bodo.

Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari dan menceburkan diri ke sungai. Dia terbawa dan mati karena kebodohannya sendiri.

Itulah cerita rakyat tentang Joko Bodo. Cerita ini tergolong dongeng karena tidak benar-benar terjadi. Kisah Joko Bodo mengajarkan kita untuk selalu kritis dan tidak bertindak gegabah.

Simak video “Suasana Kamar Mayat Ki Joko Bodo”
[Gambas:Video 20detik]
(dua/dua)