liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Kisah Hibakusha, Penyintas Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki

Kisah Hibakusha, Penyintas Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki


Jakarta

Ketika pengeboman Hiroshima dan Nagasaki oleh Sekutu membuka celah bagi bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan, penduduk sipil di kedua kota tersebut merasakan dampak dari pengeboman atom tersebut.

Salah satu warga Hiroshima yang merasakan pengeboman itu adalah Sumiteru Taniguchi. Dia berusia 16 tahun ketika Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Nagasaki, 9 Agustus 1945. Remaja itu sedang mengantarkan surat dengan sepeda saat bom meledak.

Terkena ledakan itu, Taniguchi jatuh ke tanah dan kulit punggungnya robek. Akibatnya, dia dirawat di rumah sakit selama 3,5 tahun, dengan 2 tahun dia berbaring tengkurap untuk mengobati luka dan infeksi dengan dokter, seperti dikutip dari History.

Belakangan, Taniguchi meninggal karena kanker pada 2017, di usia 88 tahun.

Sumiteru Taniguchi adalah salah satu hibakusha, sebutan untuk orang yang selamat dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Sementara itu, ratusan ribu orang diperkirakan tewas dalam peristiwa ini.

Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, 6 dan 9 Agustus 1945 menewaskan sekitar 150.000 – 190.000 orang, seperti dikutip dari laman Science.

Orang lain yang selamat dari pengeboman Hiroshima dan Nagasaki adalah Kunihiko Iida. Bocah ini baru berusia 3 tahun ketika kejadian ini terjadi.

Iida tinggal di sebuah rumah yang berjarak 900 meter dari pusat pengeboman Hiroshima. Sebuah ledakan bom menghancurkan rumahnya. Ibu dan saudara perempuannya membawa Iida ke luar kota, tetapi meninggal karena luka-lukanya.

“Sampai saya masuk sekolah dasar, saya pikir mereka tinggal di suatu tempat, dan kami akan bertemu lagi suatu hari nanti,” katanya.

Akibat efek bom atom Hiroshima, Iida dirawat di rumah sakit selama bertahun-tahun karena tubuhnya melemah. Dia menderita anemia masa kecil yang sering menyebabkan dia pingsan di sekolah, maag, asma, tumor otak, dan pertumbuhan tiroid.

Penelitian Efek Radiasi

Iida kemudian berpartisipasi dalam studi efek radiasi oleh para peneliti dari Komisi Kecelakaan Bom Atom Amerika Serikat (ABCC) sejak akhir 1950-an, sekarang di bawah Radiation Effects Research Foundation (RERF).

ABCC tidak bermaksud menyembuhkan hibakusha. Komisi AS ini dibentuk pada tahun 1946 oleh Angkatan Laut AS untuk memanfaatkan kesempatan unik untuk meneliti efek medis dan biologis dari radiasi. Karena itu, ABCC tidak memiliki reputasi yang baik di kalangan hibakusha.

Di sisi lain, jelas Iida, penelitian ini penting untuk mengungkap bagaimana dampak bom atom yang dialami hibakusha atau penyintas bom atom. Harapannya, penelitian ini mempromosikan perdamaian.

Sebab, tidak semua efek bom atom terlihat dari luar. Sejumlah korban menderita luka bakar parah dan kanker akibat radiasi, termasuk kanker darah (leukemia). Namun, ada juga banyak kerusakan radiasi yang membutuhkan waktu hingga puluhan tahun untuk terlihat.

Saat ini salah satu penelitian yang sedang dilakukan adalah bagaimana mekanisme molekuler saat paparan radiasi menyebabkan kanker.

Penelitian tim sebelumnya menemukan bahwa radiasi bom atom menyebabkan peningkatan risiko leukemia, perut, paru-paru, hati dan kanker payudara, serta gagal jantung, stroke, asma, bronkitis, dan masalah pencernaan.

Sementara itu, penelitian selama puluhan tahun juga tidak menemukan efek pada keturunan orang yang terpapar radiasi. Namun, penyintas bom atom atau hibakusha masih mengalami diskriminasi.

Diskriminasi

Michiko Kodama berusia 7 tahun ketika dia berlindung di sekolah kayunya ketika bom atom jatuh di Hiroshima.

Kodama tidak terluka parah, tetapi banyak dari keluarga besarnya menderita penyakit radiasi dan meninggal. Salah satunya adalah sepupunya, yang meninggal di pelukan Kodama meminta minum, tetapi tidak dapat menelan air.

Setelah lulus, Kodama kesulitan mencari pekerjaan. Ia juga dibantu masuk kerja di perusahaan lokal oleh gurunya. Kodama juga ditolak calon mertuanya untuk menikah dengan pacarnya karena sebagai hibakusha, darahnya dianggap tercemar.

Beberapa tahun kemudian, Kodama menikah dengan pria lain dan memiliki dua anak perempuan. Namun, stigma hibakusha melekat pada anak-anak Kodama, yang juga ditolak oleh calon mertuanya. Bedanya, calon menantu Kodama menolak oposisi dan menikahi putranya.

Perjuangan Pelarangan Senjata Nuklir

Setsuko Thurlow baru berusia 13 tahun ketika Hiroshima dibom.

Pagi itu, dia melapor ke kantor militer Hiroshima. Thurlow dan gadis-gadis lain direkrut untuk membantu menguraikan kode perang Jepang, seperti dikutip dari halaman History.

Saat petugas kantor berbicara, Thurlow melihat kilatan cahaya di luar jendela. Tiba-tiba, dia terkena ledakan dan terlempar ke udara. Ketika dia sadar kembali, Thurlow terjepit di bawah puing-puing gedung perkantoran.

Sembilan tahun setelah bom atom Hiroshima dan Nagasaki, Thurlow belajar di Virginia, AS. Wartawan lokal mempertanyakan tanggapannya terhadap uji coba bom hidrogen AS di Samudera Pasifik yang mengakibatkan nelayan Jepang tewas akibat radiasi.

Dia mengatakan, dia marah dengan kejadian itu. Namun, berita tanggapan Thurlow membuatnya dikirim surat kebencian, disuruh kembali ke Jepang dan disebut layak bom.

Berangkat dari kemarahannya, Thurlow mulai berbicara di depan umum tentang dampak buruk senjata nuklir dan pentingnya menghilangkan penggunaannya.

Hingga usianya 90 tahun, aktivis anti senjata nuklir ini menceritakan bagaimana ia lolos dari puing-puing hari itu, melihat orang-orang dengan kulit terbakar dan organ terputus, serta bagaimana keluarganya meninggal akibat ledakan dan penyakit radiasi.

“Sebagai orang yang selamat dari Hiroshima, merupakan tanggung jawab moral saya untuk memastikan dunia mengetahuinya sehingga pengetahuan dapat mencegah hal seperti ini terjadi lagi,” katanya.

Thurlow juga bekerja dengan hibakusha lain, seperti Shuntaro Hida, seorang dokter yang selamat dari serangan Hiroshima, membantu merawat korban lain, berbicara secara internasional tentang dampak senjata nuklir. Ada juga aktivis Sunao Tsuboi, mahasiswa di Hiroshima saat bom meledak.

Pada 2017, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadopsi Perjanjian Larangan Senjata Nuklir yang diprakarsai oleh hibakusha, termasuk Thurlow, sebulan sebelum Taniguchi meninggal. Hida dan Tsuboi meninggal pada 2017 dan 2021, masing-masing berusia 100 dan 96 tahun.

“Saya khawatir tentang apa yang akan terjadi pada dunia ketika tidak ada lagi yang selamat dari bom atom,” kata Taniguchi sebelum meninggal.

Tahun itu, Thurlow menerima Hadiah Nobel Perdamaian atas nama Kampanye Internasional untuk Menghapuskan Senjata Nuklir.

Tonton Video “Bell Peringati 77 Tahun Tragedi Bom Atom di Jepang”
[Gambas:Video 20detik]
(tw/nwk)