Kisah Krisdayanti Jadi Korban Bullying di Sekolah


Jakarta

Krisdayanti mengatakan pernah menjadi korban bullying di sekolah. Kini, saat menjadi anggota Komisi IX Dewan Rakyat, Krisdayanti juga mendukung program anti-bullying di sekolah!

“Saya juga korban bullying. Sebelumnya saya tidak mengerti mengapa teman-teman saya bersikap seperti itu, apakah karena saya sering mewakili sekolah, sehingga teman-teman saya iri? Tapi dengan prestasi, Anda tidak merasa lebih dari yang lain, ” dia berkata.

Hal itu disampaikan Krisdayanti di hadapan para siswa dan guru SMPN 25 Jakarta yang memimpin program anti-bullying di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (24/11/2022).

Menurut KD, demikian ia biasa disapa, perannya saat ini sebagai orang tua adalah berkomunikasi agar sang anak tidak menjadi pelaku bullying.

“Artinya tidak ada yang lebih besar dari pengalaman, pengalaman, yang banyak mengajarkan kita untuk melakukan perubahan. Kalau arahnya bagus bisa dilanjutkan. SD, sampai sekarang masih ya, apa alasannya?’ Karena seseorang ingin terlihat keren, ingin terlihat hebat, ingin terlihat lebih dari orang lain, sebenarnya masih menjadi kepentingan orang tersebut untuk lebih diperhatikan di lingkungannya, bahkan konsep kekeluargaan bisa menghalangi segalanya, ” dia berkata.

Menurutnya, salah satu kunci agar anak tidak menjadi pelaku bullying adalah komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Termasuk, jangan membandingkan anak. Berikan juga telinga untuk mendengarkan pendapat anak.

“Bagaimana orang tua bisa berkomunikasi dengan baik, menjelaskan (misalnya) membandingkan anak laki-laki dan perempuan itu motivasi. Jadi, gunakan bahasa yang baik antara orang tua dan anak, serta terima saran dari anak. Karena anak tidak mau dibedakan,” imbuhnya. Krisdayanti.

KD mencontohkan komunikasi dengan anaknya setelah anak pulang sekolah, termasuk menanyakan keinginannya. Cara ini dianggap membuat anak berpikir dua kali untuk melakukan bullying.

“Saya juga melakukan itu dengan anak-anak saya, ‘Bagaimana sekolahmu hari ini, apa yang kamu inginkan di sekolah,’ anak-anak ingin orang tuanya berperan dalam apa. Anak-anak sekarang lebih ekspresif. Dengan begitu mereka akan berpikir dua kali. tentang melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Jadi, sudah saatnya kita mengambil tindakan untuk menghentikan perundungan ini,” jelasnya.

KD juga menyoroti kasus bullying di sekolah termasuk di daerahnya (dapil), Malang Raya, Jawa Timur.

“Bullying, saya dapat (informasi) yang terjadi di daerah pemilihan saya. Anak laki-laki kelas 2 SD dipukuli oleh seniornya sampai koma. Kami berharap mereka mendapat pendidikan, malah di-bully,” kata KD.

Ia berharap ada sikap sekolah untuk lebih tegas dan menjadi agen perubahan anti-bullying, terlepas dari ada atau tidaknya kurikulum anti-bullying di tingkat nasional.

“Terkait kurikulum, di BKKBN saya bisa menjembatani kesenjangan bahwa seks bukan hal yang tabu untuk dimasukkan ke dalam kurikulum. dijadikan kurikulum, tapi lebih kepada tindakan yang kalau tidak dilakukan akan ditegur,” katanya.

Menurutnya, tindakan tegas non kriminal juga bisa dilakukan pihak sekolah.

“Mungkin bukan kelas kriminal (sanksi-red), tapi ada sanksi yang dilakukan di sekolah untuk pelaku bully, putus sekolah, atau sikap lebih tegas dari sekolah, itu yang penting. Karena ini terang-terangan mengancam nyawa, kami lembaga pendidikan akan terkontaminasi,” katanya lagi.

Badan Anti-Bullying Siswa & Program Anti-Bullying Sekolah

KD juga mendorong munculnya tokoh-tokoh anti bullying di kalangan pelajar.

“Kamu tidak harus menjadi ketua OSIS untuk menjadi agen anti bullying di sekolahmu, tapi kamu harus berprestasi. Bukan menjadi lebih dari yang lain, tapi jadikan sebagai mediator. Agen anti-bullying ini akan menjadi mediator antar sesama mahasiswa. Yang mengalami bullying, cari solusi yang tepat,” ujarnya.

Dalam pertemuan dengan siswa dan guru SMPN 25 Jakarta, KD juga mendorong kegiatan sekolah dalam menjalankan program anti bullying.

“Baru saja saya dapat contoh dari SMPN 25 Jakarta, ada agen anti bullying. Ini harus disebarkan ke semua sekolah,” kata KD.

Dalam kesempatan yang sama, Catherine Minerva Simangunsong, salah satu Duta Anti-Bullying SMPN 25 Jakarta mengatakan, dirinya bersama 29 duta lainnya berkoordinasi dengan guru Bimbingan dan Konseling untuk menindaklanjuti kasus bullying yang dialami sesama siswa.

“Informasi bullying itu dari mulut ke mulut, dari teman dekat, diceritakan oleh teman, atau dari korban sendiri tapi dirahasiakan, kita jaga ceritanya. Diteruskan ke guru BK untuk ditindaklanjuti. Tidak diperluas .karena itu melindungi privasi siswa,” jelas Catherine.

Pada setiap upacara bendera, seorang duta anti-bullying akan membacakan ikrar anti-bullying yang diikuti oleh mahasiswa secara bersama-sama.

Mendengar hal tersebut, kata KD, praktik baik ini perlu diterapkan untuk menghindari gejala bullying di sekolah.

“Dengan mengikrarkan ikrar anti bullying setiap hari sebelum masuk kelas, menurut kami ini bisa menjadi energi yang baik bagi mereka, mereka sekolah untuk menimba ilmu, tidak ada bedanya. Misalnya dengan memakai seragam, berarti kita sama, tidak ada kasta dan lain-lainnya,” ujarnya.

Simak Video “Polisi Periksa Siswa Dugaan Bullying SMP Bandung”
[Gambas:Video 20detik]
(tw/nwk)