liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Laut Pecah Rekor Suhu Terpanas, Apa Bahayanya?

Laut Pecah Rekor Suhu Terpanas, Apa Bahayanya?

Jakarta

Suhu lautan mencapai rekor tertinggi. Data para ilmuwan menunjukkan lautan sekarang menyerap 10 zettajoule (ZJ) lebih banyak daripada tahun 2021.

Data ini didasarkan pada data tahun 2022. Tim ilmuwan internasional mengukur suhu laut tahunan dan menemukan bahwa suhu tersebut telah memecahkan rekor sebelumnya.

Rekor ini didasarkan pada dua garis waktu internasional dari data panas laut sejak tahun 1950-an. Satu dilakukan oleh peneliti pemerintah di Amerika Serikat dan yang lainnya dilakukan oleh peneliti pemerintah di China.

Kedua kumpulan data menunjukkan bahwa air laut yang mencapai kedalaman 2.000 meter sekarang menyerap panas 10 zettajoule (ZJ) lebih banyak daripada yang terjadi pada tahun 2021. Itu seratus kali lebih banyak energi daripada tagihan listrik dunia setiap tahun. Lautan juga memasuki tahun ketujuh berturut-turut dengan suhu terhangat.

Air dikenal sangat baik dalam menyerap energi panas dalam jumlah besar tanpa menaikkan suhunya dengan cepat. Belum lagi lautan mengandung banyak air. Namun menyimpan 10 ZJ di pinggir lautan bukannya tanpa konsekuensi.

Di Bumi, lautan menyerap 90 persen kelebihan panas di atmosfer kita. Efeknya secara mendasar mengubah kepadatan, dinamika, dan struktur lautan.

Perbedaan Salinitas Laut Merupakan Tanda Bahaya

Saat ini, perbedaan salinitas laut telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa. Sebagai informasi, salinitas adalah jumlah garam yang larut dalam air.

Di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia Timur, para ilmuwan mengatakan air laut menjadi air tawar. Namun di garis tengah Samudra Atlantik, Laut Mediterania, dan Samudra Hindia Barat, air lautnya jauh lebih asin.

“Daerah salin menjadi lebih asin, dan daerah air tawar menjadi lebih segar, sehingga intensitas siklus hidrologi terus meningkat,” jelas ilmuwan iklim Lijing Cheng dari Chinese Academy of Sciences dikutip dari Live Science, Jumat (13/1/2023). ).

Singkatnya, lapisan laut tidak bercampur seperti dulu dan ini dapat mengganggu sirkulasi panas, karbon, dan oksigen dari atmosfer.

Pencampuran air yang berkurang ini dapat memicu peristiwa yang dikenal sebagai ‘Blob’, genangan air hangat yang tersebar luas dan terus-menerus di Pacific Northwest yang mulai beredar pada tahun 2013. Gumpalan tersebut dapat memusnahkan burung dan kehidupan laut selama bertahun-tahun yang akan datang.

Hubungan antara Lautan dan Atmosfer

Lautan dan atmosfer memiliki hubungan yang erat. Air yang lebih hangat atau asin dapat memengaruhi pola cuaca global dan kenaikan permukaan laut.

Jika air yang lebih hangat dan air yang lebih asin bercampur semakin sedikit di lautan, ada risiko lautan tidak akan mampu menyerap karbon sebanyak dulu. Akibatnya, gas rumah kaca akan terkonsentrasi di atmosfer dan menimbulkan efek iklim yang parah.

Perairan asin di bumi telah disebut sebagai rompi antipeluru melawan krisis iklim terburuk. Namun sejak 1980-an, para peneliti telah menemukan peningkatan tiga sampai empat kali lipat dalam tingkat pemanasan laut. Pada tahun 2022, tingkat stratifikasi yang diukur di perairan laut termasuk di antara tujuh besar yang tercatat.

“Sampai kita mencapai emisi nol bersih, pemanasan akan berlanjut, dan kita akan terus memecahkan rekor panas lautan, seperti yang kita lakukan tahun ini,” kata ilmuwan iklim Michael Mann dari University of Pennsylvania.

“Kesadaran dan pemahaman yang lebih baik tentang lautan menjadi dasar tindakan untuk memerangi perubahan iklim,” pungkasnya.

Simak Video “Tahun Terpanas di Indonesia 2016, Dekade Terpanas 2011-2020 di Bumi”
[Gambas:Video 20detik]
(nir/nwk)