liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Mahasiswa UI Tangkap Kabut dengan Limbah Jerami, Jadi Alternatif Sumber Air

Mahasiswa UI Tangkap Kabut dengan Limbah Jerami, Jadi Alternatif Sumber Air


Jakarta

Berpijak dari seringnya terjadi kekurangan air di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) merancang sebuah inovasi untuk menangkap kabut sebagai alternatif sumber air bersih. Caranya adalah dengan memanfaatkan sisa jerami padi.

Mahasiswa UI terdiri dari Yudha Adi Putra (Geofisika 2020), Ralfy Ruben Rialdi (Geofisika 2020), Rizka Destiana Novani (Geologi 2020), Matthew Aristotheo (Teknik Mesin 2020), dan Andika Faishal Aziz (Teknik Mesin 2020), dengan pembimbing Dr Retno Keberlanjutan, MSc.

Mereka menyebut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Gunungkidul menunjukkan kekeringan air pada 2021 akan berdampak pada 16 mukim dan mempersulit kehidupan sekitar 127.000 warga Gunungkidul.

Penangkap Kabut Limbah Jerami Padi

Para siswa mencoba merancang penangkap kabut ramah lingkungan Orogensys. Inovasi ini dibuat dengan bahan limbah beras yang mampu menangkap air dengan baik.

Hal ini karena melimpahnya jerami pertanian Gunungkidul dan letak kabupaten yang berada di dataran tinggi memungkinkan inovasi mereka tidak hanya bermanfaat, tetapi juga berkelanjutan.

Yudha, Ketua Tim PKM-Video Ide Konstruktif UI (PKM-VGK) mengatakan, mereka mulai merancang Orogensys melalui kajian literatur, analisis masalah di Gunungkidul, dan analisis pemecahan masalah sejak Maret 2022.

“Saat kami selidiki, kekurangan air di Kabupaten Gunungkidul mengarah pada kondisi geologis. Jenis batuan karbonat yang dominan menyebabkan akifer air terlalu dalam sehingga menyulitkan warga untuk memanfaatkan air bawah tanah,” kata Yudha dikutip dari kampus resmi. situs web. , Sabtu (26/2019). 11/2022).

Theo, salah satu mahasiswa pemula, menambahkan bahwa limbah jerami memiliki kekuatan dan daya serap kabut yang tinggi.

Agar dapat digunakan secara luas, mahasiswa perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk menyempurnakan cetak biru Orogensys.

Proyek percontohan untuk menangkap kabut seharusnya dilaksanakan di Kampung Natah, salah satu desa yang mengalami kekeringan parah di Gunungkidul. Setelah itu, Orogensys dapat diproduksi dan diimplementasikan secara massal.

Ruben, salah satu mahasiswa yang memulai Orogensys, berharap alat penangkap kabut ini dapat menyediakan air bersih bagi Gunungkidul dan daerah lain yang mengalami kekeringan.

Dengan demikian, lanjutnya, inovasi mereka dapat mendukung Sustainable Development Goal (SDG) 6 yaitu menjamin ketersediaan dan pengelolaan air dan sanitasi yang berkelanjutan bagi seluruh warga.

“Kami berharap Orogensys dapat memberikan harapan kepada masyarakat atas kelangkaan air yang mengancam kehidupan masyarakat Gunungkidul sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi lokal untuk mengatasi permasalahan global,” pungkasnya.

Tonton Video “Meksiko Utara dilanda Gelombang Panas dan Kekeringan”
[Gambas:Video 20detik]
(dua/fase)