liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Malaysia Ancam Setop Pasok Minyak Sawit ke Uni Eropa, Ini Biang Keroknya

Malaysia Ancam Setop Pasok Minyak Sawit ke Uni Eropa, Ini Biang Keroknya

Jakarta

Pemerintah Malaysia mengancam akan menghentikan ekspor minyak sawit ke Uni Eropa. Hal itu dilakukan sebagai tanggapan atas undang-undang baru di Uni Eropa yang secara ketat mengontrol penjualan produk sawit karena dianggap tidak ramah terhadap hutan.

Menteri Komoditas Malaysia Fadillah Yusof mengatakan pemerintah Malaysia dan Indonesia akan mempelajari undang-undang Uni Eropa yang melarang penjualan minyak kelapa sawit dan komoditas lain yang terkait dengan deforestasi. Impor hanya dapat dilakukan oleh importir Eropa dengan syarat menunjukkan bahwa produksi barang impor tidak merusak hutan.

Di sisi lain, Uni Eropa sebenarnya adalah importir utama minyak sawit. Oleh karena itu, undang-undang pelarangan impor minyak sawit yang disepakati pada bulan Desember oleh negara-negara Eropa telah menimbulkan keberatan dari Indonesia dan Malaysia sebagai produsen utama minyak sawit.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Jika kita perlu melibatkan ahli dari luar negeri untuk melawan setiap tindakan yang diambil oleh UE, kita harus melakukannya. Atau opsinya adalah kita berhenti mengekspor ke Eropa, fokus saja ke negara lain jika mereka (UE) mempersulit untuk kita ekspor ke mereka,” ujar Fadillah dikutip dari dari ReutersKamis (12/1/2023).

Aktivis lingkungan menyalahkan industri kelapa sawit atas pembukaan hutan hujan yang cepat di Asia Tenggara, meskipun Indonesia dan Malaysia telah mengamanatkan standar sertifikasi keberlanjutan untuk semua perkebunan.

Fadillah, yang juga wakil perdana menteri, mendesak anggota Dewan Negara Penghasil Minyak Sawit (CPOPC) untuk bekerja sama melawan undang-undang baru dan memerangi tuduhan tak berdasar yang dibuat oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat tentang keberlanjutan minyak sawit.

Menanggapi Fadillah, Duta Besar Uni Eropa untuk Malaysia mengatakan tidak akan melarang impor minyak sawit dan membantah undang-undang deforestasi menciptakan hambatan ekspor minyak sawit untuk Malaysia atau negara penghasil minyak sawit lainnya.

“(Undang-undang) berlaku sama untuk komoditas yang diproduksi di negara mana pun, termasuk negara anggota UE dan bertujuan untuk memastikan bahwa produksi komoditas tidak mendorong deforestasi dan degradasi hutan lebih lanjut,” kata Duta Besar UE Michalis Rokas.

Permintaan UE untuk minyak sawit diperkirakan akan menurun secara signifikan selama 10 tahun ke depan bahkan sebelum undang-undang baru disahkan. Pada tahun 2018, arahan energi terbarukan Uni Eropa menyerukan penghapusan bahan bakar transportasi berbasis minyak kelapa sawit secara bertahap pada tahun 2030 karena dianggap terkait dengan deforestasi.

(p/hn)