liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Megawati ‘Senggol’ Mendikbud Nadiem soal Bahasa Daerah yang Mulai Punah

Megawati 'Senggol' Mendikbud Nadiem soal Bahasa Daerah yang Mulai Punah

Jakarta

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim disinggung Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri terkait fenomena tersebut. bahasa daerah yang dianggap punah.

Dalam sambutannya di acara HUT ke-50 PDIP, Selasa (10/1/2023), Megawati menceritakan kondisi bahasa daerah di Indonesia yang mulai ditinggalkan.

Ia pun meminta izin kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menyampaikan hal tersebut kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang turut hadir dalam acara tersebut.

“Itu bahasa daerah yang sudah mati, sudah ada Pak. Malah menurut saya perlu dicari literaturnya,” kata Megawati seperti dikutip dari laporan tersebut. Berita Terkini.

Megawati Ingin Bahasa Daerah Dilestarikan

Dalam sambutannya, Megawati mengingatkan pentingnya berbahasa daerah selain bahasa Inggris.

“Ada Pak Nadiem mas, selain bahasa Inggris, itu bahasa Inggris. Itu bahasa asing. Ya nggak masalah. Tapi bahasa daerah tetap bisa,” ujarnya.

39 Bahasa Daerah Dihidupkan Kembali

Sementara sebelum dibahas oleh Megawati, Pemerintah melalui Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menghidupkan kembali 39 bahasa daerah dari total 718 bahasa daerah di Indonesia sepanjang tahun 2022.

39 bahasa daerah tersebut tersebar di 12 daerah antara lain Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Data ini dilaporkan langsung oleh Kepala Badan Bahasa dan Pengembangan (Badan Bahasa) E Aminudin Aziz dalam acara yang digelar Markas Besar UNESCO di Paris, Desember 2022 lalu.

“Tahun ini, 2022, kita menghidupkan kembali 39 bahasa daerah dan lebih dari 3,3 juta orang telah berpartisipasi. Saya kira ini sukses besar,” jelasnya.

Upaya Pemerintah Dalam Memelihara Bahasa Daerah

Tidak hanya itu, pemerintah juga terus menjaga bahasa daerah dengan baik agar dapat diakses oleh setiap siswa sekolah.

Salah satunya adalah Merdeka Belajar Episode 17: Pemulihan Bahasa Daerah yang merupakan inisiatif yang dilakukan oleh pemerintah.

Dalam Merdeka Belajar: Revitalisasi Bahasa Daerah, semua siswa di sekolah dasar dan menengah dapat mempelajari bahasa daerahnya sendiri sesuai dengan minat belajarnya masing-masing.

Selain itu, pemerintah juga mendukung penuh penyediaan instruktur dan fasilitator yang bekerja sama dengan penggiat bahasa daerah.

“Mereka (siswa) diberikan kebebasan penuh untuk memilih materi pembelajaran sesuai dengan minatnya dan mereka akan belajar bahasa daerah bersama dengan siswa lain yang memiliki minat yang sama,” ujar Kepala Badan Bahasa Kemendikbud RI .

Tiga Model Restorasi Bahasa Daerah

Dilansir dari website Kemdikbud, terdapat desain tiga model penguatan bahasa daerah yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Yang pertama adalah model A, di mana ciri-ciri vitalitas bahasa masih aman, jumlah penutur masih banyak, dan masih digunakan sebagai bahasa dominan dalam masyarakat tutur. Pendekatan yang dilakukan dalam model A adalah pewarisan dilakukan secara terorganisir melalui pembelajaran di sekolah (school-based). Misalnya bahasa Jawa, Sunda dan Bali.

Selanjutnya adalah model B, dimana ciri vitalitas bahasa tergolong rentan, jumlah penutur cukup banyak dan bahasa daerah digunakan secara kompetitif dengan bahasa daerah lainnya. Pendekatan model ini adalah pewarisan dapat dilaksanakan secara terorganisir melalui pembelajaran di sekolah jika wilayah tutur mencukupi dan pewarisan dalam bidang tutur juga dapat dilaksanakan melalui pembelajaran berbasis masyarakat.

Sedangkan model C, adalah ciri-ciri vitalitas bahasa, kategorinya menurun, terancam punah, atau kritis, dan jumlah penuturnya sedikit serta persebarannya terbatas. Pendekatan yang dilakukan dalam model ini adalah pewarisan dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis masyarakat untuk wilayah tuturan bahasa yang terbatas dan khas dan pembelajaran dilakukan dengan menetapkan dua keluarga atau lebih sebagai model tempat belajar atau dilakukan. di pusat-pusat kegiatan masyarakat, seperti tempat ibadah, kantor desa, atau taman bacaan masyarakat.

Sementara itu, tujuan utama menghidupkan kembali bahasa daerah adalah pertama, para penutur muda menjadi penutur aktif bahasa daerah dan belajar bahasa daerah dengan suka cita melalui media yang mereka sukai.

Kedua, menjaga kelangsungan bahasa dan sastra daerah. Ketiga, menciptakan ruang kreativitas dan kebebasan bagi penutur bahasa daerah untuk mempertahankan bahasa. Keempat, menemukan fungsi dan rumah baru bagi bahasa dan sastra daerah.

Simak Video “Megawati Nyaris Nangis Cerita Sopir Truk Bisa Jadi Bupati”
[Gambas:Video 20detik]
(fase/nwk)