Mengenal Gua Braholo yang Baru Jadi Cagar Budaya, Rumah Ras Australo-Melanesoid


Jakarta

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim baru saja menetapkan 15 Cagar Budaya Nasional periode Januari-Oktober 2022. Salah satunya adalah Gua Braholo di Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta yang merupakan pemukiman manusia prasejarah.

Berdasarkan hasil penggalian, diketahui bahwa Gua Braholo telah dihuni oleh manusia purba setidaknya sejak akhir Pleistosen hingga Holosen.

Situs purbakala tersebut ditemukan oleh Divisi Prasejarah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional saat melakukan survei ke seluruh kawasan Gunung Sewu pada tahun 1996. Penemuan tersebut dilanjutkan dengan ekskavasi pada tahun 1997 dan 1998.

Mengutip laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Gua Braholo menunjukkan indikasi terkuat adanya okupasi melalui temuan permukaan, misalnya sisa-sisa fauna dan artefak batu yang melimpah.

Dihuni Sekitar 33.000-3.000 Tahun Lalu

Gua yang terletak di lereng bukit karst di Kampung Semugih ini diperkirakan telah dihuni sekitar 33.000 hingga 3.000 tahun yang lalu. Gua Braholo diklaim dihuni oleh komunitas besar dengan berbagai aktivitas.

Penggalian yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah DIY menemukan berbagai artefak dari berbagai lapisan tanah budaya.

Lapisan budaya terendah mewakili zaman Pleistosen akhir, menunjukkan artefak batu dan tulang fauna besar.

Kemudian, pada lapisan budaya yang berusia kurang lebih 12.000-6.000 tahun, artefak yang ditemukan tergolong teknologi pra-neolitik, misalnya perkakas batu, tulang, dan cangkang moluska.

Sedangkan pada lapisan budaya atas ditemukan artefak Neolitikum, antara lain pecahan tembikar, kapak persegi dan fosil tulang, beberapa jenis biji-bijian, dan pecahan tulang hewan.

Sebagian besar populasinya adalah Australo Melanesoid

Manusia prasejarah juga menggunakan Gua Braholo sebagai tempat pemakaman. Ditemukan tulang belulang 8 orang yang dimakamkan dengan sistem tertentu.

Praktik penguburan di situs ini diperkirakan terjadi pada kurun waktu sekitar 9.000-4.000 tahun yang lalu.

Menurut analisis morfologi, beberapa manusia purba yang terkubur di Gua Braholo memiliki karakter Australo-Melanesoid.

Migrasi masyarakat etnik ini ke Nusantara diperkirakan dimulai dari Daratan Asia Tenggara setidaknya 11.000 tahun yang lalu, saat permukaan laut naik.

Penelitian intensif di Gua Braholo pada tahun 1990-an berlangsung selama lima tahun. Misi tersebut dipimpin oleh Prof. Truman Simanjuntak dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta dan didukung oleh The Toyota Foundation.

Sekarang Gua Braholo ditetapkan sebagai Situs Warisan Budaya Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 58/M/2022.

Tonton Video “Penemuan Arkeologi di Indonesia yang Menghebohkan Dunia”
[Gambas:Video 20detik]
(baik/fase)