Mimpi Buruk Pekerja Startup yang Kini Dilanda Badai PHK

Jakarta

Starter, unicorn to decacorn merupakan salah satu jenis tempat kerja yang diidamkan para pencari kerja. Salah satu daya tariknya adalah gaji yang besar hingga fasilitas yang memadai.

Tapi itu berubah setelah badai PHK melanda beberapa perusahaan start-up teknologi. Bahkan, baru-baru ini ada 2 perusahaan baru yang melakukan PHK, yakni PT GoTo Gojek Tokopedia dan Ruangguru.

Selain dua perusahaan tersebut, sebelumnya ada Shopee Indonesia, Binar Academy, GrabKitchen, JD.ID, Lummo, Link Aja, TaniHub dan masih banyak lagi startup yang melakukan PHK.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Ya, itu akan terus terjadi, baik unicorn maupun startup. Apalagi startup yang belum menjadi unicorn atau IPO berpotensi besar untuk gagal

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai badai PHK di sektor tersebut perusahaan baru belum berakhir. Diperkirakan akan semakin banyak perusahaan yang melakukan efisiensi. Omong-omong, karyawan di startup juga merasa tidak nyaman sekarang.

“Ya akan terus terjadi, baik untuk unicorn maupun startup. Apalagi untuk startup yang belum menjadi unicorn atau IPO, potensi gagalnya sangat besar,” ujarnya saat dihubungi. detikcomMinggu (20/11/2022).

Heru mengatakan, bekerja di perusahaan start-up merupakan impian ketika baru berkembang di Indonesia beberapa tahun lalu. Salah satu alasannya adalah karena gajinya relatif tinggi dibandingkan dengan perusahaan pada umumnya.

Start-up yang sudah punya nama sepertinya tak segan memberikan gaji besar dengan fasilitas mewah. Namun, menurut Heru, hal tersebut sebenarnya bisa menjadi salah satu penyebab perusahaan tidak efisien.

“Gaji yang besar dan fasilitas yang mewah juga membuat banyak perusahaan start up menjadi tidak efisien. Mungkin ini juga bagian dari branding hingga disebut perusahaan besar seperti Google atau Facebook dengan kantor lengkap dengan fasilitas, tapi sepertinya sudah tidak terpakai, banyak. kan sampah, ruang kantor tidak terpakai, jadi mubazir,” terangnya.

Sementara itu, Akademisi dan Pakar Bisnis Profesor Rhenald Kasali meragukan alasan penghentian GoTo dan Ruangguru karena tekanan ekonomi global. Karena mereka harus mendapatkan keuntungan selama pandemi COVID-19.

“Benarkah ini terjadi pada mereka karena situasi ekonomi global? Mengapa saya meragukannya? Kalau saya lihat selama pandemi, mereka sangat diuntungkan. Semua orang menggunakan layanan mereka. Tapi apa yang berkelanjutan?” katanya dalam video di akun YouTube-nya.

Padahal, di masa pandemi, saat semua orang tidak bisa keluar rumah, layanan pesan-antar makanan dan barang yang disediakan GoTo sangat diperlukan.

Sedangkan Ruangguru menjadi platform digital untuk program Kartu Prakerja. Meski perusahaan akhirnya mundur setelah kontroversi muncul.

Rhenald menduga apa yang terjadi pada startup, bahkan raksasa seperti GoTo, bukan karena situasi ekonomi global, tetapi karena terlalu banyak menghabiskan uang.

“Yang pertama mungkin menghambur-hamburkan uang secara berlebihan. Kalau membakar uang secara berlebihan inilah yang terjadi, persaingan di antara mereka,” ujarnya.

(das/zlf)