liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Nasi Minyak Viral Banjir Peminat, Kemenkes Ingatkan Batasan Asupan Lemak

Viral Kuliner Nasi Minyak, Kenapa Banyak Jelantah Kok Malah Makin Enak?


Jakarta

Baru-baru ini, isu nasi minyak, makanan yang dicampur bumbu dan minyak berlebih, menjadi viral. Plt Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA GIZI) Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) Dr Ni Made Diah PLD, MKM, mengatakan minyak sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh, namun tetap ada batasan yang harus dipenuhi. dipahami agar tidak membahayakan kesehatan.

“Minyak ini untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak kecil dan pada prinsipnya setiap orang membutuhkan minyak namun dengan batasan-batasan, jadi ibu hamil tetap membutuhkan sekitar 5 porsi minyak setiap harinya,” jelasnya dalam jumpa pers, Jumat (20/1/2019). 2023). . ).

“Ibu menyusui 6 kali sehari, anak kecil juga tetap membutuhkan minyak dengan porsi setiap kali makan, dan Kementerian Kesehatan membatasi lemak ini dengan mengeluarkan Permenkes 30 Tahun 2013 tentang Batasan Gula, Garam, Lemak,” ujar Dr Diah.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Dalam Permenkes tersebut mengatur konsumsi gula lebih dari 50 gram, sodium lebih dari 2000 mg atau lebih dari 67 gram lemak total per orang per hari, risiko hipertensi, stroke, diabetes dan serangan jantung terkendali.

Dr Diah juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kandungan lemak pada label pangan olahan.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Hardinsyah dari PERGIZI Pangan Indonesia menyampaikan bahwa risiko dari mengonsumsi makanan berlemak memang tidak terlihat dalam jangka pendek. Namun, ia juga menyebutkan bahwa tidak semua makanan berlemak memiliki efek berbahaya.

Misalnya puding nasi. Nasi uduk yang disebut Prof Hardin ini menggunakan minyak kelapa dan proses pembuatannya dikukus, bukan digoreng.

“Cara pakai minyak, selama ini nasi uduk pakai santan ya prosesnya dikukus, bukan digoreng, jadi bagi masyarakat yang memang butuh respon gula darah yang tidak terlalu cepat, makan nasi itu perlu. Diberi protein dan minyak yang baik, namun tidak berlebihan,” ujarnya.

“Yang penting jangan berlebihan dan pastikan pakai minyak apa, bukan berarti nasinya dituangi minyak goreng bekas atau digoreng dengan minyak seperti nasi goreng.”

Tonton Video “Pedagang Omong-omong Soal Masakan ‘Nasi Minyak’ Bebek Surabaya Viral”
[Gambas:Video 20detik]
(naf/atas)