Sejarah Pemberontakan Republik Maluku Selatan dan Tokoh yang Berperan


Jakarta

Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) adalah gerakan separatis yang bertujuan untuk memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (NIT) dan RIS (Republik Indonesia Bersatu).

Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) adalah gerakan separatis yang bertujuan untuk memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (NIT) dan RIS (Republik Indonesia Bersatu). Pemberontakan RMS yang dideklarasikan pada tanggal 25 April 1950 berkedudukan di Ambon sebagai markasnya.

Tokoh yang mendirikan pemberontakan RMS adalah mantan Jaksa Agung di Negara Indonesia Timur bernama Dr. Christian Robert Steven Soumokil. Pemberontakan ini merupakan kelanjutan dari konflik antara serikat pekerja dan kelompok federalis yang berkembang pada tahun 1946.

Selain itu, pemberontakan ini juga merupakan bagian dari kerusuhan di Makassar sejak pemberontakan Andi Aziz pada awal tahun 1950. Pemberontakan RMS dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mempertahankan negara federal.

Demikian dikutip dari buku Jelajah Sejarah Indonesia Jilid 3 SMA/MA Kelas XII karya Dr. Abdurakhman, SS, M.Hum

Latar Belakang Kronologis Kebangkitan RMS

Munculnya pemberontakan RMS didorong oleh situasi politik yang tidak stabil di Maluku, terutama pasca Konferensi Meja Bundar. Masa peralihan RIS menimbulkan ketegangan di masyarakat Ambon.

Isu memicu pemberontakan RMS bermula dari pemikiran sebagian masyarakat Ambon yang berkuasa pada era NIT. Hal ini mengakibatkan masyarakat di Ambon mengalami konflik hingga terpecah menjadi dua kelompok yaitu kelompok republik yang berorientasi pada nasionalisme Indonesia.

Sementara kelompok federalis atau pro-Belanda yang tergabung dalam organisasi NKHI berorientasi mendukung kolonialisme Belanda, sebagaimana dikutip dalam Bahan Kajian Sejarah Kebangsaan Indonesia buku VI karya Syarifuddin.

Pada tanggal 13 April 1950, Dr. Soumokil mengadakan pertemuan dengan berbagai pihak di Ambon. Pada tanggal 23 April 1950, Dr. Soumokil mengadakan pertemuan rahasia di Tulehu. Hasil pertemuan tersebut memunculkan gagasan untuk mendirikan Republik Maluku Selatan dan disepakati pula bahwa pelaksanaan proklamasi Republik Maluku Selatan dilaksanakan oleh pemerintah daerah.

Pemerintah daerah yang ditunjuk untuk memproklamasikan Republik Maluku Selatan adalah Bupati Maluku Selatan, J. Manuhutu. J. Manuhutu, harus menghadiri rapat rahasia Dr. Soumokil. Di bawah tekanan tim KNIL, J. Manuhutu akhirnya menyetujui perintah tentang proklamasi Republik Maluku Selatan.

Selanjutnya, pada tanggal 25 April 1950 pemerintah Maluku Selatan mengikrarkan deklarasi Republik Maluku Selatan. Selain itu, dr. Soumokil menjabat sebagai Presiden RMS.

Pada saat deklarasi, Dr. Soumokil berhasil menghimpun kekuatan KNIL dan Baret Hijau yang terlibat dalam pemberontakan Andi Aziz di Ambon. Sebenarnya dr. Soumokil terlibat dalam pemberontakan Andi Aziz. Namun, ia berhasil kabur ke Maluku dan memindahkan pasukan KNIL dari Makassar ke Ambon.

Pemberontakan Andi Aziz dan pemberontakan RMS memiliki tujuan yang sama yaitu ketidakpuasan mereka terhadap proses pengembalian RIS ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Demikian dikutip dari buku Sejarah: Kelas XII karya M. Habib Mustopo.

Upaya Mengatasi Pemberontakan Republik Maluku Selatan

Pada mulanya pemerintah pusat berusaha mengirimkan pasukan militer yang dipimpin Dr. Leimena untuk menyelesaikan pemberontakan RMS secara damai. Namun upaya perdamaian ini gagal, sehingga pemerintah mengirimkan pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Kolonel AEKawilarang untuk menumpas pemberontakan.

Pada tanggal 14 Juli 1950, pasukan ekspedisi APRIS/TNI mendarat di Pulau Laha, Pulau Buru yang dilindungi oleh Korvet Pati Unus. Dengan susah payah karena tidak mengetahui medannya, Pulau Buru berhasil diduduki oleh APRIS dan posisi-posisi penting direbut. Setelah Pulau Hunt dikuasai, tim APRIS bergerak menuju Pulau Seram.

Pergerakan tim APRIS di Pulau Seram mengalami kesulitan dan memakan banyak korban jiwa. Ini mengikuti pemberontakan RMS yang memusatkan pasukannya di Pulau Seram.

Setelah Pulau Seram dikuasai, pergerakan tim APRIS diarahkan ke Ambon yang menjadi tempat kedudukan RMS. Pada tanggal 3 November 1950, Kota Ambon berhasil dikuasai oleh pasukan APRIS meski memakan banyak korban.

Tim APRIS yang bergerak ke Ambon dibagi menjadi tiga kelompok. Rombongan pertama dipimpin Mayor Achmad Wiranatakusuma. Rombongan kedua dipimpin oleh Letnan Kolonel Slamet Rijadi. Kelompok ketiga dipimpin Mayor Suryo Subandrio.

Dalam pertempuran di dekat benteng Nieuw Victoria itu, Letnan Kolonel Slamet Rijadi menjadi salah satu korbannya. Setelah kota Ambon jatuh ke tangan pemerintah, sisa-sisa pasukan pemberontak RMS melarikan diri ke hutan dan selama beberapa tahun mereka melakukan aksi gerilya dan menimbulkan kekacauan.

Hal ini dikutip dari Buku Sejarah karya Nana Supriatna dan buku Sejarah Sekolah Menengah Pertama/MTs Kelas IX (KTSP) karya Dr. Nana Nurliana Soeryono, MA. Sejauh ini, apakah Anda memahami pemberontakan Republik Maluku Selatan?

Simak Video “Keseruan Bermain Air di Sungai Kampung Sawai Bersama Anak-anak Maluku”
[Gambas:Video 20detik]
(nw/nw)