liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Viral Fenomena Fajar Sad Boy, Begini Kata Dosen Sosiologi Unesa

Viral Fenomena Fajar Sad Boy, Begini Kata Dosen Sosiologi Unesa

Jakarta

Detikers pasti mengenal seorang remaja bernama Fajar Labatjo yang dijuluki si Bocah Sedih. Either way, Fajar menjadi sorotan media sosial setelah menceritakan kisah cinta anak anjingnya yang malang.

Selain itu, Fajar juga pandai merangkai kata-kata indah atau biasa disebut kutipan yang rata-rata banyak muncul di media sosial.

Nah, terkait fenomena Fajar sad boy, dosen Sosiologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ali Imron pun memberikan tanggapan. Ia menilai sosok Fajar sudah menjadi hal yang lumrah di masa remajanya.

Fase ini dikatakan sebagai masa remaja mencari jati diri dalam membangun jati dirinya, salah satunya adalah ketertarikan terhadap lawan jenis.

“Tertarik dengan lawan jenis merupakan salah satu cara remaja membangun jati dirinya. Masa remaja merupakan masa yang labil bagi seseorang yang sangat mudah menerima informasi atau pengaruh dari luar tanpa berpikir atau berpikir lagi,” jelasnya seperti dikutip dari Unesa situs web resmi. website pada Kamis (19/19/2019). 1/2023).

Fenomena Fajar dan Hubungannya dengan Sosialisasi Sekunder

Banyak yang mengatakan anak berusia 15 tahun itu tumbuh terlalu cepat. Padahal, menurut Ali, hal tersebut tidak bisa disalahkan karena fenomena Fajar terjadi akibat pengaruh perkembangan teknologi dan informasi yang membuat seseorang mencari jati diri melalui pergaulan sekunder.

Beragam komentar muncul terkait fenomena sad boy Fajar. Sebagian orang menganggap istilah sad boy identik dengan mudah terbawa suasana atau sensitif dengan istilah populer, namun ada juga yang bersimpati dengan kisah cinta monyet Fajar.

Sehingga, fenomena sad boys semakin marak di dunia maya. Tak heran, banyak YouTuber yang menjadikan cerita Fajar sebagai konten mereka.

Ali mengatakan, hal-hal tersebut terjadi secara alami, tetapi tidak baik jika terlalu banyak. Ia menilai, peran orang tua sangat diperlukan bagi anak untuk menjalani masa remajanya hingga dewasa.

“Fase ini memang sangat riskan. Peran orang tua sangat penting, termasuk membekali anak sebelum terjun ke dunia puppy love. Jangan sampai anak mendapat bekal dari tayangan YouTube, film, atau lainnya. Karena sangat mudah untuk masuk ke dalam pikiran remaja apalagi jika ditambah dengan lingkungan pergaulan yang tidak sehat, mendukung,” kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) ini.

Peran Media Massa Terhadap Fenomena Subuh

Maraknya nama Fajar tak lepas dari pengaruh media sosial dan media massa. Fenomena ini menjadi daya tarik utama media.

Di era disrupsi ini, banyak media yang mengabadikan peristiwa-peristiwa yang berpotensi menjadi tren kemudian mereproduksinya dalam kemasan khusus untuk konsumsi publik.

Jika dilihat dari segi sosiologis, peran media dalam konteks ini disebut komodifikasi. Fajar sebagai komoditas yang dikelola media agar layak jual di pasar rakyat.

Efek yang dirasakan Fajar tentu dalam jangka pendek mengalami culture shock yang membuatnya bingung menempatkan diri pada situasi tertentu.

Simak Video “Ganda Putra Nomor 1 Dunia Fajar/Rian, Kevin/Marcus 23”
[Gambas:Video 20detik]
(aeb/fase)