liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Wanita Ini Resign dari Software Engineer, Kini Cuan Gede dari Soft Lens

Wanita Ini Resign dari Software Engineer, Kini Cuan Gede dari Soft Lens


Jakarta

Lensa kontak atau lensa lunak menjadi barang yang dibutuhkan oleh banyak orang di Indonesia. Hal inilah yang membuat Dirda Muthi Kemala Latjuba beralih dari Software Engineer ke bisnis softlens.

Dia mendirikan bisnis ini pada tahun 2018, dia melakukan berbagai percobaan dan menemukan pabrik yang cocok untuk produknya. Hingga akhirnya ia mendapatkan sambungan pabrik yang cocok di Korea Selatan. Dirda mendirikan usaha ini karena sebagai anggota masyarakat membutuhkan barang yang berkualitas dan tidak memerlukan biaya yang tinggi.

Modal awal yang dikeluarkan untuk memulai usaha ini sekitar Rp 200 juta. Kini pendapatan yang dihasilkan per bulan kurang lebih Rp 1,5 miliar.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Sebelum menjadi pengusaha, ia bekerja sebagai insinyur perangkat lunak. Saat dia bekerja di kantor, dia mulai menjual lensa kontak sebagai dropship pada tahun 2014.

“Jadi pagi saya kirim pesanan ke ekspedisi, lalu ke kantor koding, malam packing. Waktu itu sistem e-commerce sudah disederhanakan, jadi tidak perlu admin. dua pekerjaan ini saya mulai mempekerjakan 1 admin agar pekerjaan utama saya tidak terbengkalai,” ujarnya detikcomRabu (18/1/2023).

Pada 2017, dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai software engineer dan fokus untuk mengembangkan bisnis. Hal itu dilakukan karena ia kewalahan dengan manajemen waktu saat menjalankan dua pekerjaan sekaligus.

Dirda mengungkapkan ada perbedaan yang paling terasa saat menjadi bos di Pink Rabbit. Menurutnya, jika menjadi pekerja kantoran akan mendapatkan gaji tetap setiap bulan, memiliki banyak waktu, jika tidak mengganggu hari libur dan tidak peduli dengan masalah karyawan. Tapi gajinya terbatas di sana.

Lalu saat menjadi bos Pink Rabbit, waktu Dirda terasa terbatas. Ia harus selalu belajar membangun tim jika ingin maju. Maka berani menanggung resiko rugi, jika usaha tidak berjalan sesuai keinginan.

“Hasilnya baru bisa saya nikmati setelah dua tahun Pink Rabbit berdiri, karena di awal membutuhkan modal yang besar untuk branding, pemasaran, dan stok barang,” ujarnya.

Saat tim terbentuk, ia mulai merasa memiliki banyak waktu luang. Meski begitu, ia juga terus berinovasi agar bisnis terus maju dan bisa terus membimbing tim untuk mencapai tujuan perusahaan. Saat ini produksi bulanan mencapai 30.000-50.000 pcs dengan harga Rp 122.000-142.000.

Dirda mengatakan bagi anak muda yang ingin memulai usaha harus berani mencoba, tidak takut gagal, harus berpikiran terbuka dan konsisten. “Hal terpenting dalam menciptakan bisnis adalah memastikan bahwa bisnis adalah solusi dari masalah pelanggan,” ujarnya.

Bagaimana kualitas softlens? Periksa halaman berikutnya.